Kamis, 18 April 2019

Gelap di Ujung Batin

        Kemana larinya diri saat terperangkap di sebuah perangkap yang gelap , bahkan perangkap ini berpotensi menghisap manisnya kebahagiaan, cerahnya kehidupan, dan riangnya si tawa. Secuil harapan nampaknya tak mampu membebaskan diri barang seberkas saja. Kondisi ini semakin tak asik dan tak bersahabat mengingat gersangnya  rasa serta sesaknya dada seakan namanya bukan lagi angina. 

Lantas jauh disana timbul beragam tanya , ada apakah gerangan yang terjadi ????

Motivasi saja tak juga cukup menambah ambang batas, ia hanya berpikir dan terus berlari untuk menjauh sejauh mungkin hingga sesak tadi tercecer sepanjang ia berlari entah kemana . Sebab dan akibat menjadi alasan yang kuat atas rangkaian peristiwa yang terlihat. Irama jiwa seolah berkata ''  sudahlah, saatnya mundur'' hingga akhirnya secara otomatis seluruh badan mengangguk setuju meski sebagian hati menolak . Satu yang menjadi sesal adalah mengapa selalu berkutat pada hal yang sama meski tau hasilnya takkan berbeda jua. Dengungan demi dengungan sampai ke telinga menyampaikan sebuah pesan yang harus diterima dengan paksaan seolah diri ini tak penuh dengan kedewasaan . Kali ini pelajaran kembali didapatkan bahwa berbicara adalah hal yang mudah namun sebuah rasa tak bisa berbohong disetiap nuansa. Persepsi dan sugesti mungkin telalu berlebih tapi aku percaya kembali lagi pada irama jiwa ini sebab kejadian yang mengetuk hati terdalam hingga akhirnya timbul semua tulisan dan lelehnya perasaan .Ada suatu rasa yang mengganjal setiap kali mata memandang berharap ia hilang dari pikiran dan lenyap dari perasaan . Rasa ini semakin berkembang lebih besar ketika ia bicara dan bertingkah yang membuat dada penuh akan amarah serta kecewa. Rangsangannya menjadi semakin kuat ketika mulai berdatangan serta menyatunya alur-alur peristiwa yang dirancang baik sengaja maupun tak sengaja oleh mereka. Reaksi dan tindakan kembali terjadi karena hati sudah membuncah ingin keluar semua melalui bibir berbicara ,tapi sayangnya tak mampu hingga ia keluar dari mata bersama air mengalir yang bahkan membasahi bibir . 
Sekarang hati yang dulu riang kini gersang hampir rapuh berterbangan ..................................
'' Maaf'' tak cukup mampu menerangi gelapnya hati yang sudah tercabik .
'' Janji'' tak lagi menjadi kata yang diyakini
Berulang kali terjadi harus bagaimana  lagi batin sanggup menampung resahnya rasa . Sejauh mana lagi bertahan pada cerita yang juga hampir sama yang ujung-ujungnya akan menimbulkan luka.
Sudahlah, lelah.........
Berhenti saja............
Berlaku biasa tanpa ada istilah ''istimewa''

Faktanya mudah saja namun bibir tak mudah berucap menyampaikan apa yang dirasa. Mudahnya adalah karena diawal telah terbentuk nyaman dan tentram sedari dulu saat memijak lembaran yang baru terciptakan. Kesamaan dan kecocokan hingga  muncul rasa seperti keluarga yang  berlabuh sejauh ini. Bukan tak terima dengan situasi dan kondisi namun semuanya itu jelas tergambar seakan benar apa yang telah dipikirkan. Semua telah terekam jelas melalui semua peristiwa dan cerita yang dilalui. Kini diri mulai lelah dan sepertinya menyerah saja , saat ingin kembali sekali lagi terekam memori ingin dingat kembali akan semua kejadian yang membuat hati ini lelah bertahan sehingga memilih untuk menyerahkan dan membuat catatan baru lagi . Berusaha menyusun retakan hati melalui berbagai katalis kebahagiaan yang sekuat-kuatnya akan dicari . Meskipun ku tau akan banyak memakan rasa sakit hati tapi inilah jalan terbaik bagi diri ini.
Aku takkan membiarkan rasa yang itu memberi harapan dan seolah ''tidaktegaan'' , kali ini harus bertahan pada pilihan.

Pandangan dan harapan kini sirna , padahal selalu menjadi angan sepanjang menjalani kehidupan
Lagi-lagi disadarkan ''ketulusan'' belum melekat pada diri ini. Bodoh,bodoh dan bodoh saat menanti timbulnya reaksi yang sebenarnya takkan terjadi . Kembali lagi pada irama jiwa ini '' sudahlah, saatnya mundur, carilah kebahagiaan sendiri''
Cobalah berpikir , jangan karena hal ini bisa meruntuhkan prinsip diri , hentikan semua rasa  yang menyiksa diri, lanjutkan yang memberi arti sebuah kebahagiaan dan sebuah arti kebersamaan .
Ciptakan sebuah senyuman ☺☺☺ ...............




  Yaaah begitulah sebuah kisah saat bibir tak mampu bicara , rasa yang membuncah kini sedikit lega dengan tulisan yang penuh drama dan curhatan .........





Reformasi Dikorupsi

Indonesia Negeri yang kaya akan budaya Kini tengah diselimuti banyak problematika Dari polemik RUU KPK,sampai karhutla Belum lagi selesa...