Ini tentang kekecewaan diri yang melarut kian hanyut dalam hati. Daku terseret dan terperosok jauh ke dalam lubang dan jurang itu. Sejenak ku resapi mengenal diri ini , ada satu sisi bahwa aku banyak menolak kebathilan ini. Namun aku sadari juga aku terseret arus deras melampaui segala macam obsesi yang terpikir untuk menjadi insan yang berbudi. Aku mulai banyak sadar bahwa manusia diilhami sebuah rasa untuk memahami arti kehidupan ini. Tapi aku tak merasa memposisikan diri sebagaimana yang diriku maksud tadi. Aku hanya bersyukur dapat mengenal lebih dekat kehidupan ini dengan berbagai peristiwa dan fenomena yang tak hanya sekedar saja. Allah SWT sebagai pencipta tentunya tak hanya memberi satu arti saja dalam sebuah kejadian. Allah memberikan berjuta makna agar manusia belajar , belajar dan terus belajar menggali hikmah dalam satu peristiwa.
Kadang jiwa ini termenung sejenak , menghayati cerita-cerita yang telah diukir selama ini . Ada satu imajinasi yang tak sampai dilampaui akal ini. Sebagai contoh , akan jadi apa kita setelah kehidupan yang fana ini ? , akan seperti apa kita setelah dunia ini ?, mungkinkah kita termasuk barisan putih ?, dimanakah kita jika tak terlahir? , bagaimana pikiran kita jika kita tak pernah terlahir?. Semua tanda tanya tersebut aku coba renungi meski dengan keterjangkauan akal ini agar menghargai setiap nafas yang Allah berikan kepada aku ini. Tak menampik diri , aku adalah manusia tulen yang hakikatnya berbuat dosa, tapi aku jera dengan semua dosa yang membuat hampa dengan segala kesesakan jiwa yang ku peroleh darinya . Akan ada satu titik manusia mulai merasa sesak dengan segala dosa-dosa yang di perbuat.Lalu manusia itu akan bertaubat dan kembali bersujud dengan hikmat di hadapan Sang Kuasa.
Disini mulai timbul rasa nyaman dan ketenangan yang hakiki hingga terkadang kembali timbul sifat asli manusia itu sendiri. Akan ada manusia yang merasa paling suci (contoh : diri sendiri) dan mencaci saudara sendiri yang jauh dari iman dihati. Nah, celah ini yang membuat setan alias iblis durjana mengajak balik manusia kembali pada dosa-dosa. Begitu seterusnya kecuali ada satu kata untuk memagar itu semua " Istiqamah". Sebuah kata yang ringan diucapkan namun berat dilaksanakan, seperti ucapan kekinian " istiqamah itu berat , biar pak ustadz saja". Pandangan terkait berat atau tidaknya istiqamah tergantung insan yang menjalaninya. Dari hemat ku , istiqamah itu tergantung niat kita , jikalau kuat ditanamkan insyaAllah akan ringan tetapi jika sebaliknya tentu kita akan goyah dan terayu dengan aroma panggung sandiwara ini.
Pembaca budiman, ketahuilah kalimat-kalimat diatas bukan menggurui tetapi lebih seperti curhatan dari penulis yang masih belajar memahami kehidupan ini dan hakikat hidup ini alias masih anak bawang atau bau kencur . Kritik dan saran sangat penulis harapkan. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk pembaca siapapun dan dimanapun.
Keep Patient Keep Smile and Keep Fighting :)
Langganan:
Postingan (Atom)
Reformasi Dikorupsi
Indonesia Negeri yang kaya akan budaya Kini tengah diselimuti banyak problematika Dari polemik RUU KPK,sampai karhutla Belum lagi selesa...
-
“Ketika jiwa Terhentak” Gelagat menjadi cermin sebuah sikap Sikap adalah titik pusat temukan sejawat Sejawat adakalanya tak terta...
-
Indonesia Negeri yang kaya akan budaya Kini tengah diselimuti banyak problematika Dari polemik RUU KPK,sampai karhutla Belum lagi selesa...
-
“Pada Siapa Aku Bertanya?” Dunia yang diorasikan luas berupa hamparan Berisi jutaan bahkan miliyaran insan Tapi bagiku adalah ingk...
