Indonesia
Negeri yang kaya akan budaya
Kini tengah diselimuti banyak problematika
Dari polemik RUU KPK,sampai karhutla
Belum lagi selesai satu masalah
Kembali lagi kita dirundung duka
Kerusuhan Wamena membanjiri ruang berita
Ada apa dengan Indonesia ?
Kemana para penguasa ?
Tak sadarkah rakyat sedang terlena ?
Rasa gelisah ini yang kian hari kian tak tertahan
Mendorong mereka yang rindu akan keadilan
Menyuarakan kebenaran
Bergerak bersama menjemput kemenangan
Namun, asumsi liar berdatangan
Bahwa aksi ini katanya tunggangan
Ya, benar dikatakan
Aksi ini ditunggangi oleh kepentingan
Kepentingan rakyat-lah yang menjadi junjungan
Sayang, ketika sampai di depan gerbang
Mereka yang ingin diskusi malah dihadang
Dihadang oleh sekian pasukan garang
Suasana menjadi mencekam saat tak ditemukan titik benderang
Baku hantam tak terelakkan saat semuanya menjadi berang
Ironis memang
Inilah bukti
Bahwa demokrasi kita telah mati
Hingga mengundang tangis ibu pertiwi
Yang diinginkan adalah diskusi
Mendengarkan satu demi satu aspirasi
Kami bukan rakyat yang harus dibenci
Dengarkanlah keluh kesah kami
Wahai yang katanya wakil rayat ini
Berikanlah empati
Jangan biarkan negeri ini dikorupsi
Oleh tikus-tikus berdasi
Dengan melemahkan institusi
Yang kita sebut Komisi Pemberantasan Korupsi
Wahai wakil rakyat yang mengerti konstitusi
Mengapa kau tak mengerti ?
RUU KUHP yang kalian rancang ini
Tak masuk akal dan tak kenal azas peduli
Kau bilang ini karya anak bangsa
Namun mengapa isinya seolah menjajah
Ya, bangsa sendiri menjajah rakyat Indonesia
Sehingga membuat rakyat semakin tak berdaya
Wahai kalian yang duduk untuk rapat
Dengarkanlah jeritan rakyat
Hapuskan pasal-pasal karet yang kalian buat
Jangan merasa paling hebat
Kedaulatan tetap ditangan rakyat
Kucuri Casafapo
Sabtu, 28 September 2019
Kamis, 18 April 2019
Gelap di Ujung Batin
Kemana larinya diri saat terperangkap di sebuah perangkap yang gelap , bahkan perangkap ini berpotensi menghisap manisnya kebahagiaan, cerahnya kehidupan, dan riangnya si tawa. Secuil harapan nampaknya tak mampu membebaskan diri barang seberkas saja. Kondisi ini semakin tak asik dan tak bersahabat mengingat gersangnya rasa serta sesaknya dada seakan namanya bukan lagi angina.
Lantas jauh disana timbul beragam tanya , ada apakah gerangan yang terjadi ????
Motivasi saja tak juga cukup menambah ambang batas, ia hanya berpikir dan terus berlari untuk menjauh sejauh mungkin hingga sesak tadi tercecer sepanjang ia berlari entah kemana . Sebab dan akibat menjadi alasan yang kuat atas rangkaian peristiwa yang terlihat. Irama jiwa seolah berkata '' sudahlah, saatnya mundur'' hingga akhirnya secara otomatis seluruh badan mengangguk setuju meski sebagian hati menolak . Satu yang menjadi sesal adalah mengapa selalu berkutat pada hal yang sama meski tau hasilnya takkan berbeda jua. Dengungan demi dengungan sampai ke telinga menyampaikan sebuah pesan yang harus diterima dengan paksaan seolah diri ini tak penuh dengan kedewasaan . Kali ini pelajaran kembali didapatkan bahwa berbicara adalah hal yang mudah namun sebuah rasa tak bisa berbohong disetiap nuansa. Persepsi dan sugesti mungkin telalu berlebih tapi aku percaya kembali lagi pada irama jiwa ini sebab kejadian yang mengetuk hati terdalam hingga akhirnya timbul semua tulisan dan lelehnya perasaan .Ada suatu rasa yang mengganjal setiap kali mata memandang berharap ia hilang dari pikiran dan lenyap dari perasaan . Rasa ini semakin berkembang lebih besar ketika ia bicara dan bertingkah yang membuat dada penuh akan amarah serta kecewa. Rangsangannya menjadi semakin kuat ketika mulai berdatangan serta menyatunya alur-alur peristiwa yang dirancang baik sengaja maupun tak sengaja oleh mereka. Reaksi dan tindakan kembali terjadi karena hati sudah membuncah ingin keluar semua melalui bibir berbicara ,tapi sayangnya tak mampu hingga ia keluar dari mata bersama air mengalir yang bahkan membasahi bibir .
Sekarang hati yang dulu riang kini gersang hampir rapuh berterbangan ..................................'' Maaf'' tak cukup mampu menerangi gelapnya hati yang sudah tercabik .
'' Janji'' tak lagi menjadi kata yang diyakini
Berulang kali terjadi harus bagaimana lagi batin sanggup menampung resahnya rasa . Sejauh mana lagi bertahan pada cerita yang juga hampir sama yang ujung-ujungnya akan menimbulkan luka.
Sudahlah, lelah.........
Berhenti saja............
Berlaku biasa tanpa ada istilah ''istimewa''
Faktanya mudah saja namun bibir tak mudah berucap menyampaikan apa yang dirasa. Mudahnya adalah karena diawal telah terbentuk nyaman dan tentram sedari dulu saat memijak lembaran yang baru terciptakan. Kesamaan dan kecocokan hingga muncul rasa seperti keluarga yang berlabuh sejauh ini. Bukan tak terima dengan situasi dan kondisi namun semuanya itu jelas tergambar seakan benar apa yang telah dipikirkan. Semua telah terekam jelas melalui semua peristiwa dan cerita yang dilalui. Kini diri mulai lelah dan sepertinya menyerah saja , saat ingin kembali sekali lagi terekam memori ingin dingat kembali akan semua kejadian yang membuat hati ini lelah bertahan sehingga memilih untuk menyerahkan dan membuat catatan baru lagi . Berusaha menyusun retakan hati melalui berbagai katalis kebahagiaan yang sekuat-kuatnya akan dicari . Meskipun ku tau akan banyak memakan rasa sakit hati tapi inilah jalan terbaik bagi diri ini.
Aku takkan membiarkan rasa yang itu memberi harapan dan seolah ''tidaktegaan'' , kali ini harus bertahan pada pilihan.
Pandangan dan harapan kini sirna , padahal selalu menjadi angan sepanjang menjalani kehidupan
Lagi-lagi disadarkan ''ketulusan'' belum melekat pada diri ini. Bodoh,bodoh dan bodoh saat menanti timbulnya reaksi yang sebenarnya takkan terjadi . Kembali lagi pada irama jiwa ini '' sudahlah, saatnya mundur, carilah kebahagiaan sendiri''
Cobalah berpikir , jangan karena hal ini bisa meruntuhkan prinsip diri , hentikan semua rasa yang menyiksa diri, lanjutkan yang memberi arti sebuah kebahagiaan dan sebuah arti kebersamaan .Ciptakan sebuah senyuman ☺☺☺ ...............
Yaaah begitulah sebuah kisah saat bibir tak mampu bicara , rasa yang membuncah kini sedikit lega dengan tulisan yang penuh drama dan curhatan .........
Sabtu, 14 April 2018
Euphoria Dunia
Ini tentang kekecewaan diri yang melarut kian hanyut dalam hati. Daku terseret dan terperosok jauh ke dalam lubang dan jurang itu. Sejenak ku resapi mengenal diri ini , ada satu sisi bahwa aku banyak menolak kebathilan ini. Namun aku sadari juga aku terseret arus deras melampaui segala macam obsesi yang terpikir untuk menjadi insan yang berbudi. Aku mulai banyak sadar bahwa manusia diilhami sebuah rasa untuk memahami arti kehidupan ini. Tapi aku tak merasa memposisikan diri sebagaimana yang diriku maksud tadi. Aku hanya bersyukur dapat mengenal lebih dekat kehidupan ini dengan berbagai peristiwa dan fenomena yang tak hanya sekedar saja. Allah SWT sebagai pencipta tentunya tak hanya memberi satu arti saja dalam sebuah kejadian. Allah memberikan berjuta makna agar manusia belajar , belajar dan terus belajar menggali hikmah dalam satu peristiwa.
Kadang jiwa ini termenung sejenak , menghayati cerita-cerita yang telah diukir selama ini . Ada satu imajinasi yang tak sampai dilampaui akal ini. Sebagai contoh , akan jadi apa kita setelah kehidupan yang fana ini ? , akan seperti apa kita setelah dunia ini ?, mungkinkah kita termasuk barisan putih ?, dimanakah kita jika tak terlahir? , bagaimana pikiran kita jika kita tak pernah terlahir?. Semua tanda tanya tersebut aku coba renungi meski dengan keterjangkauan akal ini agar menghargai setiap nafas yang Allah berikan kepada aku ini. Tak menampik diri , aku adalah manusia tulen yang hakikatnya berbuat dosa, tapi aku jera dengan semua dosa yang membuat hampa dengan segala kesesakan jiwa yang ku peroleh darinya . Akan ada satu titik manusia mulai merasa sesak dengan segala dosa-dosa yang di perbuat.Lalu manusia itu akan bertaubat dan kembali bersujud dengan hikmat di hadapan Sang Kuasa.
Disini mulai timbul rasa nyaman dan ketenangan yang hakiki hingga terkadang kembali timbul sifat asli manusia itu sendiri. Akan ada manusia yang merasa paling suci (contoh : diri sendiri) dan mencaci saudara sendiri yang jauh dari iman dihati. Nah, celah ini yang membuat setan alias iblis durjana mengajak balik manusia kembali pada dosa-dosa. Begitu seterusnya kecuali ada satu kata untuk memagar itu semua " Istiqamah". Sebuah kata yang ringan diucapkan namun berat dilaksanakan, seperti ucapan kekinian " istiqamah itu berat , biar pak ustadz saja". Pandangan terkait berat atau tidaknya istiqamah tergantung insan yang menjalaninya. Dari hemat ku , istiqamah itu tergantung niat kita , jikalau kuat ditanamkan insyaAllah akan ringan tetapi jika sebaliknya tentu kita akan goyah dan terayu dengan aroma panggung sandiwara ini.
Pembaca budiman, ketahuilah kalimat-kalimat diatas bukan menggurui tetapi lebih seperti curhatan dari penulis yang masih belajar memahami kehidupan ini dan hakikat hidup ini alias masih anak bawang atau bau kencur . Kritik dan saran sangat penulis harapkan. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk pembaca siapapun dan dimanapun.
Keep Patient Keep Smile and Keep Fighting :)
Kadang jiwa ini termenung sejenak , menghayati cerita-cerita yang telah diukir selama ini . Ada satu imajinasi yang tak sampai dilampaui akal ini. Sebagai contoh , akan jadi apa kita setelah kehidupan yang fana ini ? , akan seperti apa kita setelah dunia ini ?, mungkinkah kita termasuk barisan putih ?, dimanakah kita jika tak terlahir? , bagaimana pikiran kita jika kita tak pernah terlahir?. Semua tanda tanya tersebut aku coba renungi meski dengan keterjangkauan akal ini agar menghargai setiap nafas yang Allah berikan kepada aku ini. Tak menampik diri , aku adalah manusia tulen yang hakikatnya berbuat dosa, tapi aku jera dengan semua dosa yang membuat hampa dengan segala kesesakan jiwa yang ku peroleh darinya . Akan ada satu titik manusia mulai merasa sesak dengan segala dosa-dosa yang di perbuat.Lalu manusia itu akan bertaubat dan kembali bersujud dengan hikmat di hadapan Sang Kuasa.
Disini mulai timbul rasa nyaman dan ketenangan yang hakiki hingga terkadang kembali timbul sifat asli manusia itu sendiri. Akan ada manusia yang merasa paling suci (contoh : diri sendiri) dan mencaci saudara sendiri yang jauh dari iman dihati. Nah, celah ini yang membuat setan alias iblis durjana mengajak balik manusia kembali pada dosa-dosa. Begitu seterusnya kecuali ada satu kata untuk memagar itu semua " Istiqamah". Sebuah kata yang ringan diucapkan namun berat dilaksanakan, seperti ucapan kekinian " istiqamah itu berat , biar pak ustadz saja". Pandangan terkait berat atau tidaknya istiqamah tergantung insan yang menjalaninya. Dari hemat ku , istiqamah itu tergantung niat kita , jikalau kuat ditanamkan insyaAllah akan ringan tetapi jika sebaliknya tentu kita akan goyah dan terayu dengan aroma panggung sandiwara ini.
Pembaca budiman, ketahuilah kalimat-kalimat diatas bukan menggurui tetapi lebih seperti curhatan dari penulis yang masih belajar memahami kehidupan ini dan hakikat hidup ini alias masih anak bawang atau bau kencur . Kritik dan saran sangat penulis harapkan. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk pembaca siapapun dan dimanapun.
Keep Patient Keep Smile and Keep Fighting :)
Sabtu, 24 Februari 2018
Untai Kata
“Pada
Siapa Aku Bertanya?”
Dunia
yang diorasikan luas berupa hamparan
Berisi
jutaan bahkan miliyaran insan
Tapi
bagiku adalah ingkaran
Apa
karena aku tak merasakan?
Hanya
batin yang selalu hadir menjawab setiap pertanyaan
Untuk
itu pada siapa aku bertanya?
Mungkin
kah rumput yang bergoyang?
Atau
kah angin berdesir yang memberi harapan?
Setiap
kalimat-kalimat itu bagai sebuah lagu tak bernada
Harmoni
nya terseret badai gundah gulana
Itulah
asbab musabab ku tutup diri dengan tirai yang terlihat kusam
Sambil
menggenggam tangan seolah ketakutan
Ilusi
dan imajinasi tergambar jelas mencekam
Membekukan
ekspektasi yang berusaha di eksplorasi
Untuk
sekian kalinya
Pada
siapa aku bertanya?
Bertanya
yang maknanya meluapkan curahan
Curahan
yang diharapkan terlampiaskan
Untuk
terakhir kalinya
Pada
siapa aku bertanya?
Untai Kiasan
“Ketika jiwa Terhentak”
Gelagat menjadi
cermin sebuah sikap
Sikap adalah
titik pusat temukan sejawat
Sejawat
adakalanya tak tertangkap
Saat diri
tertutup rapat
Maka
muncul jiwa sarat tanya
Berjalan
kian kesana kian kesini
Memecah
teka-teki jawaban yang belum pasti
Semakin
merunduk jawaban menghindari
Semakin
menjulang jawaban pun pergi
Jiwa
menelaah lebih namun tak sampai solusi
Hingga
beribu tanya muncul setiap hari
Tetap
juga tak menghasilkan jawaban yang pasti
Tunggu…..
Aku ingat
sebuah kata berfilsafat
Oleh
tokoh negeri pencipta pesawat
Beliau
mencari jawaban ketika pikiran berkarat
Dari
rumus yang ia dapat
Yaitu
Fakta,Masalah, dan Solusi
Sejenak
akal mencoba mendeskripsi
Dan
ternyata hanya dua yang terisi
Sedang
yang ketiga jawaban kembali lagi
Yaitu…..
Jiwa menelaah lebih namun
tak sampai solusi
Langganan:
Postingan (Atom)
Reformasi Dikorupsi
Indonesia Negeri yang kaya akan budaya Kini tengah diselimuti banyak problematika Dari polemik RUU KPK,sampai karhutla Belum lagi selesa...
-
“Ketika jiwa Terhentak” Gelagat menjadi cermin sebuah sikap Sikap adalah titik pusat temukan sejawat Sejawat adakalanya tak terta...
-
Indonesia Negeri yang kaya akan budaya Kini tengah diselimuti banyak problematika Dari polemik RUU KPK,sampai karhutla Belum lagi selesa...
-
“Pada Siapa Aku Bertanya?” Dunia yang diorasikan luas berupa hamparan Berisi jutaan bahkan miliyaran insan Tapi bagiku adalah ingk...
